Dengarkan bisik angin sendu
Kepada kabutnya sendiri
Namun mengapa angin hanya bertemu
Tak menyapa, hanya membisu
Walau sering kali kumelihat awan kelabu
Namun mengapa hujan mimpi tak kunjung bertamu
Membuat matahari menjadi rindu
Dalam kabut, Setetes embun bertemu
Dalam malam yang sunyi
Tanpa bunga, tanpa ilalang
Dan tanpa sapuan lembut angin sepoi
Jam tak mengerti
Mengapa malam harus berdentang
Memberi nyanyian pada bulan
Dan bintang yang menyebar bagai lautan
Jam tak kunjung mengerti
Mengapa fajar harus datang
Menuntun matahari pagi
Untuk bersinar sampai sore nanti
Tampilkan postingan dengan label Zeffa Yurihana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zeffa Yurihana. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Agustus 2009
Cahaya Temaram Senja
Katakan saja kau takut pada senja
Yang sepi tak mau kembali
Pada kelam dan sunyi mulutnya
Berbasa-basi menggambarkan kata-kata
Secarik kertas bergambar bunga
Dan marah warna itu menggambar
Menjadi putih suci tak mengerti
Pada ilalang yang gugur dan matahari yang lesu
Cahayanya temaram
Yang mengikis pantai timur daratan
Hijau kini tak lagi hidup
Karena ia meninggalkan kenangan yang tersimpan
Yang sepi tak mau kembali
Pada kelam dan sunyi mulutnya
Berbasa-basi menggambarkan kata-kata
Secarik kertas bergambar bunga
Dan marah warna itu menggambar
Menjadi putih suci tak mengerti
Pada ilalang yang gugur dan matahari yang lesu
Cahayanya temaram
Yang mengikis pantai timur daratan
Hijau kini tak lagi hidup
Karena ia meninggalkan kenangan yang tersimpan
Langganan:
Postingan (Atom)